HARI MINGGU I PRAPASKAH
MINGGU, 5 APRIL 2020

ANAK TUHAN MENGASIHI SESAMA
Lukas 6 : 37 – 38

PENDAHULUAN

Dalam sebuah sidang pengadilan, tugas jaksa penuntut umum adalah menghadikan terdakwa dan menyampaikan dakwaan atau tuduhan bahwa terdakwa bersalah karena itu harus dihukum. Untuk itu jaksa harus menyampaikan bukti berupa data dan fakta, serta menghadirkan saksi-saksi untuk mendukung dakwaannya.
Tugas hakim dalam sidang pengadilan adalah memeriksa terdakwa berdasarkan dakwaan jaksa penuntut umm dengan bukti-bukti yang disampaikan dan keterangan dari saksi-saksi maupun pembelaan yang disampaikan tim pembela terdakwa. Kemudian hakim memutuskan apakah terdakwa bersalah kemudian dihukum, atau terdakwa tidak bersalah sehungga harus dibebaskan dari dakwaan.
Apabila hakim memutuskan terdakwa bersalah dan karena itu harus dihukum, hakim selanjutnya menetapkan jenis hukuman yang dikenakan kepada terdakwa sesuai kesalahannya. Jadi dalam menghakimi dan memutuskan terdakwa bersalah serta menetapkan hukuman bagi terdakwa sesuai kesalahannya. Jadi dalam megnghakimi dan memutuskan terdakwa bersalah serta menerapkan hukuman bagi terdakwa, hakim harus memperhatikan bukti dan kesaksian-kesaksian yang disampaikan oleh jaksa penuntut umum maupun oleh tim pembela terdakwa. Karena itu siapapun tidak boleh meghakim sesamanya bersalah lalu menghukumnya tanpa bukti-bukti dan kesasian bahwa sesamanya itu bersalah sehingga dihukum.
Di alkitab ada beberapa kisah penghakiman terhadap sesama sebagai yang bersalah, serta menghukumnya bukan berdasarkan bukti-bukti dan kesaksian bahwa sesamanya itu bersalah, melainkan karena sakit hari atau karena cemburu, atau karena benci. Nabot dihakimi sebagai yang bersalah dan dihukum mati oleh raja Ahab kaena sakit hari pada Nabot yang tidak mau menjual kebun anggurnya kepada raja Ahab.
Yesus sendiri dihakmi sebagai yang bersalah oleh Mahkamah Agama Yahudi dan dihukum mati di kayu salib karena para pemimpin agama Yahudi sakit hati.

PEMAHAMAN KONTEKS

Lukas 6 : 37 – 38 adalah bagian tak terpisahkan dari Lukas 6 : 20 – 49 yang berisikan cerita tentang pengajaran Yesus di kaki sebuah bukit di daerah Galilea. Boland dalam Kitab Tafsiran Lukas membagi cerita tentang Pengajaran Yesus itu dalam empat kelompok. Pembagian pengajaran Yesus yang terdapat dalam Lukas 6 : 20 – 49 menurut Boland, berbeda dari pembagian pengajaran Yesus yang terdapat dalam Lukas 6 : 20 – 49 menurut Lembaga Alkitab Indonesia.
Kelompok pertama dari pengajaran Yesus menurut Boland adalah Lukas 6 : 20 – 26 yang berisikan ucapan bahagia dan peringatan. Kelompok pertama ini merupakan Pembukaan dari Pengajaran Yesus di kaki bukit. Kelompok keempat yaitu Lukas 6 : 46 – 49 yang berisikan pengajaran Yesus tentang dua macam dasar, merupakan penutup dari Pengajaran Yesus di kaki bukit.
Kelompok kedua adalah Lukas 6 : 27 – 38 yang berbicara tentang Kasih terhadap musuh (Lukas 6 : 27 – 35) dan Kemurahan hati (Lukas 6 : 36 – 38). Menurut Boland, Lukas 6 : 36 merupakan penutup dari pengajaran Yesus tentang kasih terhadap musuh (Lukas 6 : 27 – 35), dan sekaligusmenjadi pengantar dari pengajaran Yesus tentang kemurahan hati (Lukas 6 : 37 – 38). Jadi, pengajaran Yesus tentang “Hal Menghakimi” yang terdapat dalam Lukas 6 : 37 – 38, harus dipahami dalam terang pengajaran Yesus tentang murah hati sama seperti Bapa-Mu di sorga yang terdapat dalam Lukas 6 : 36. Kelompok ketiga adalah Lukas 6 : 39 – 45 yang berisikan Tiga Perumpamaan.

PENDALAMAN TEKS
Lukas 6 : 36 adalah penutup dari pengajaran Yesus tenyang “mengasihi musuh” yang terdapat dalam Lukas 6 : 27 – 35 dan menjadi pembuka dari pengajaran Yesus tentang “hal menghakimi” yang terdapat dalam Lukas 6 : 37 – 38. Karena itu pengajaran Yesus ini harus dipahami dalam terang pengajaran Yesus tentang “mengasihi musuh” yang terdapat dalam Lukas 6 : 27 – 35, dan penutupnya adalah pengajaran Yesus tentang “hendaklah kamu murah hati seperti Bapamu adalah murah hati”.
Jadi yang Yesus maksudkan dengan “jangan menghakimi dan jangan menghukum” adalah jangan menghakimi dan jangan menghukum mereka yang kita benci dan musuhi, sekalipun meeka telah berbuat jahat kepada kita.
Sebagai ganti menghakimi dan memusuhi mereka yang telah berbuat kejahatan kepada kita, kita harus mengasihi mereka dan mengampuni mereka. Sebab Allah Bapa kita adalah Allah Yang Murah Hati dan Maha Pengampun.

APLIKASI
Sebagai manusia sangat sulit dan berat bagi kita untuk bisa melupakan mereka yang telah berbuat jahat dan membuat hidup kita sangat menderita. Sebagai manusia, sangat sulit dan berat bagi kita untuk bisa melupakan mereka yang telah membuat luka di hati kita, demikian juga mereka yang telah menginjak-injak harga diri kita. Karena itu dengan jujur harus dikatakan bahwa sangat sulit dan sangat berat apabila kita diminta untuk mengasihi dan mengampuni mereka yang berbuat jahat kepada kita.
Seorang ibu dengan jujur pernah berkata begini, “Saya tidak akan pernah mau mengampuni, maka saya tidak mengucapkan kalimat ‘dan ampunilah kami seperti kami sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kami’.
Yesus dalam pengajaran-Nya di Galilea mengingatkan kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Karena Allah Bapa kita adalah Bapa yang Murah hati, maka kita harus mengasihi dan mengampuni mereka yang sangat kita benci dan musuhi.

CONTOH KOTBAH

PENGANTAR
Suatu haru, ibu Naomi, anggota Pelkat PKP datang ke Kantor Majelis Jemaat karena ia mau konsultasi dengan Pendeta/Ketua Majelis Jemaat. Di ruang kerja Pendeta/Ketua Majelis Jeamaat, ibu Naomi bertanya kepada Pendeta : “Pak Pendeta, salahkah saya kalau saya mengucapkan Doa Bapa Kami tidak lengkap?”. Pendeta balik bertanya, “mengapa ibu Naomi mengatakan bahwa ibu Naomi mengucapkan Doa Bapa Kami tidak lengkap? Apa yang tidak lengkap?” Ibu Naomi langsung menjelaskan : “Begini Pak Pendeta, setiap saya mengucapkan Doa Bapa Kami, saya tidak mengicapkan kalimat dan ampunilah kami seperti kami sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Apakah saya salah?”. Pendeta balik bertanya : “mengapa ibu Naomi tidak mengucapkan kalimat itu?”.
Ibu Naomi diam sejenak kemudia menjelaskan, “begini Pak Pendeta, terus terang saya masih menyimpan kebencian dan dendam kepada sahabat karib saya. Saya teramat sangat baik kepada dia karena dia adalah sahabat karib saya. Ternyata dia mengkhianati saya. Hati saya sangat sakit. Karena itu saya sangat membencinya dan menanggapnya bukan lagi sahabat karib tetapi musuh abadi. Saya masih menyimpan kebencian dan dendam kepadanua sampai hari ini dan sampai saya mati. Karena itu ketika saya mengucapkan Doa Bapa Kami, saya tidak mengucapkan kalimat ‘dan ampunilah kam seperti kami sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kami’. Setelah mendengar curahan hati ibu Naomi, Pendeta membaca Lukas 6 : 27 – 38 dan berkata, “Ibu Naomi, anak Tuhan tidak boleh membenci dan memusuhi sesama”.

ISI KOTBAH
Ada banyak orang seperti ibu Naomi yang masih menyimpan kebencian dan dendam terhadap sesama dan sulit mengampuni sesama yang telah membuat hatinya terluka. Bahkan ada orang-orang yang berkata seperti ibu Naomi, “sampai saya mati, saya tetap membenci dan m emusuhi dan tidak akan mengampuni dia yang telah membuat hidup saya sangat menderita”.
Sebagai orang Kristen yang adalah anak-anak Tuhan, bolehkan kita tetap membenci dan memusuhi orang-orang yang telah membuat hidup kita sangat menderita akibat kejahatan yang mereka perbuat kepada kita? Sebagai orang Kristen yang adalah anak-anak Tuhan, bolehkah kita berkata seperti ibu Naomi, “Sampai saya mati, saya tidak akan mengampuni dia yang telah membuat hidup saya sangat menderita?”.
Pada hari Minggu Prapaskah ini kita diingatkan bahwa melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib di bukit Golgota, merupakan wujud kasih Allah yang mau mengampni dan menghapus semua kesalahan dan dosa yang pernah kita perbuat.
Melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib di bukit Golgota, sebagai wujud kasih Allah yang mau menerima kita untuk hidup bersama Allah dan telah menjadikan kita anak-anak-Nya. Jjika oleh karena kasih-Nya, Allah mengampuni dan menghaus semua kesalahan dan dosa yang pernah kita perbuat, mengapa kita masih membenci dan memusuhi mereka yang membuat hidup kita sangat menderita?
Kalau Allah karena kasih-Nya mau dan sudah mengampni kita dan sudah menghapus semua kesalahan dan dosa yang pernah kita perbuat, mengapa kita tidak mau mengampuni mereka bahkan sampai kita mati kita tidak akan mengampuni mereka yang telah membuat hidup kita sangat menderita? Yesus melalui pengajaran-Nya yang terdapat di Lukas 6 : 37 – 38 mengingatkan dan mengajak kita untuk mau mengampuni mereka yang telah membuat hidup kita menderita sama seperti Allah telah mengampuni kita. Mari kira berkata seperti lirik lagu yang dinyanyikan oleh Jack Greene, “… If God Can Forgive You So Can I…”