MINGGU I PRAPASKAH
Rabu, 8 April 2020
HARI DOA GPIB

BERKORBAN; KONSEKUENSI JALAN SALIB
Lukas 9 : 22 -27

PENDAHULUAN
Sebelum Yesus memasuki kota Yerusalem dan menjalani jalan penderitaan, Ia beberapa kali menyampaikan hal tersebut kepada murid-murid. Hal itu Yesus lakukan bukan hanya sekedar menyimpan mereka, tetapi juga sekaligus Yesus hendak menjajaki atau melacak pemahaman mereka tentang diri-Nya (Luk 9 : 18 – 21) dan hal-hal apa yang akan Dia alami selanjutnya. Petrus adalah salah seorang murid yang paling reaktif dan menolak bila sesuatu yang buruk menimpa Yesus (Mat 16 : 22), namun Yesus justru menegur dan mengingatkan Petrus dengan keras atas cara berpikir yang akan menimpa-Nya kelak. Dengan kata lain Yesus hendak meluruskan pemahaman murid-murid, bahwa Dia justru harus menjalani kematian sebagai bagian dari tugas yang telah ditetapkan oleh Bapa kepada-Nya. Kepada para murid ia menyatakan ada konsekuensi yang tidak ringan akan mereka jalani bila mereka tetap ingin menjadi pengikut-Nya.

PENDALAM TEKS DAN KONTEKS
Di sini kita menemuan salah satu pengajaran yang paling sering disampaikan Yesus (Mat. 10 : 37 – 39); Mrk. 8 : 34 – 37; Luk. 9 : 23 – 27; Yoh 12 : 25). Ada hal yang perlu disiapkan oleh setiap orang bila ingin menjalani hidup sebagai pengikut Kristus.
Pertama, ia harus menyangkal diri. Menyangkal diri hendaknya dipahami secara lebih luas dan mendalam. Tidak hanya sekedar menjalani hidup tanpa kenikmatan atau kemewahan demi mendukung suatu tujuan yang baik. Hal itu baik dan bagus sekali, akan tetapi belum cukup. Menyangkal diri artinya dalam setiap peristiwa kehidupan, kita dimampukan untuk berkata “tidak” kepada diri sendiri. Dan “Ya” kepada Allah. Menyangkal diri artinya sekali dan terakhir kali untuk selama-lamanya melengserkan diri sendiri dan memberu tempat Allah sebagai yang utama. Menjadikan Allah sebagai prinsip hidup yang terus-menerus diselaraskan dengan kehendak Allah. Jadi, menyangkal diri adalah proses yang terus menerus bersama Allah. Dalam interaksi yang intens, dalam jatuh dan bangun di setiap sisi kehidupan.
Kedua, memikul salibnya. Artinya harus memikul beban pengobanan sebagai bagian tanggung jawab dan konsekuensi menjadi pengikut Kristus. Hidup orang Keisten adalah melayani dan berkorban. Pengikut Kristus bisa jadi akan menemukan bahwa tempat untuk memberi pelayanan terbesar kepada Kristus adalah tempat di mana penghargaan yang akan dia terima sangat kecil dan prestasinya tidak diakui. Seseoran bahkan bisa jadi harus mengurbankan beberap hal yang telah diraihnya dengan usaha gigih demi untuk berbagi dan memberi lebih banyak kepada orang lain. Hidup Kristiani adalah hidup yang punya konsekuensi berkorban.
Penulis Injil lukas menambahkan satu kata penting terhadap perintah Yesus ini : “Ia harus memikul salibnya setiap hari.” Sangat penting orang harus mau berkorban sebagai pengikut-Nya, namun yang tidak kalah penting juga adalah hidup yang dijalani dalam kesadaran penuh dari waktu ke waktu akan tuntunan Allah dan kebutuhan orang lain. Ringkasannya, mau berkorban, peka akan kesusahan orang lain dan konsisten melakukannya. Sebab untuk konsisten dan berteguh hati berjalan di jalan pengorbanan dan ketataan sebagaimana yang Yesus telah tunjukkan dan lakukan juga membutuhkan perjuangan dan pertolongan dari Allah.
Pada titik inilah perintah yang ketiga, yakni mengikuti Yesus. Artinya, ia harus mempersembahkan ketaatan sempurna kepada Yesus. Hidup pengikut Kristus selamanya mengikuti sang Guru, dalam ketaatan yang konstan, dalam pikir kata dan laku perbuatan. Yesus bahkan menantang murid-murid dan pengikut-Nya, yang harus siap kehilangan nyawanya sebagai risiko paling berat yang akan dihadapi.

KESIMPULAN
Yesus tak pernah bermanis-manis apalagi memberi harapan kosong kepada murid-muridnya dan pengikut-Nya. Cara berpikir murid-murid tentang Mesias yang datang dengan gemerlap dunia, keperkasaan, kuasa, kemewahan ukuran-ukuran dunia ini dibalkkan sedemikan rupa. Alih-alih bicara tentang segala kemudahan yang akan diperoleh, Yesus justru menantang siapa saja yang mau mengikuti Dia untuk siap menyangkal diri, memikul salib setia hari. Ada unsur pengorbanan, ketekunan dan ketaatan yang mutlak harus dibangun dalam diri. Akan tetapi penghargaan dari buah pengorbanan, ketaatan dan memikul salib juga tidak kalah hebat yang disiapkan.
Apa itu? Pengakuan dan penerimaan Allah pada hari penghakiman. Hidup sedang menuju ke suatu tempat, yaitu penghakiman. Dalam setiap bidang kehidupan pasti akan datang hari perhitungan. Apa ukuran di hari penghakiman tersebut? Bukanlah orang yang hidupnya nyaman sendiri, suskses dan kaya sendiri, hebat sendiri dan lainnya. Melainkan orang yang hidupnya tertuju bagi orang lain. Hidupnya diberi bagi orang lain. Hidupnya memberi kelegaan, perubahan dan kebaikan. Hidup yang sedia berkorban bagi orang lain. Sama seperti Tubuh Kristus yang terpecah-pecah dan darah-Nya tertumpah untuk manusia dan seisi dunia alam ciptaan-Nya.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Mengapa sulit dalam melakukan perintah Yesus pada perikop bacaan ini?
  2. Langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut?
  3. Buatlah satu komitmen sederhana bagi diri kita sendiri terkait perintah di atas sebagai tanda syukur kita pada pengorbanan Kristus.