Renungan Malam 11 Agustus 2020

KJ.243 : 1,2 – Berdoa

Kejadian 1 : 14 – 23
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat…itulah hari kelima (ay.19,23)

Ruang iptek menyebutkan jarak bumi – matahari: 150 juta Km; pesawat terbang dengan kecepatan 9000 Km/jam, perlu waktu 19 tahun terbang tanpa henti untuk mecapai matahari. Bintang dalam berbagai ukuran, warna dan terang tak terhitung banyaknya (bd. Kej.15:5). 1 Dan manusia tak dapat mengungkap lebih dalam bagaimana persisnya alam semesta ini.

Dalam iman Kristen, alam semesta dijadikan oleh Allah dengan cara ajaib hanya lewat firman dan karya-Nya. Hasilnya, benda-benda yang ditaruh pada tempatnya itu bekerja sesuai fungsinya: Matahari benda penerang di siang hari, bulan dan bintang pada malam hari. Dalam kemandirian fungsi, benda-benda itu bekerja berdampingan secara harmonis, bergerak pada alurnya tanpa bersinggungan. Tentu ini suatu pemandangan yang luar biasa menakjubkan, melampaui akal manusia. Bahkan benda-benda yang dibentangkan-Nya di langit itu pun diciptakan untuk menopang hidup semua makhluk ciptaan-Nya di dumi. Pasang surut air laut dipengaruhi oleh jauh dekatnya bulan pada bumi. Ini berpengaruh pada kehidupan ikan-ikan dan makhluk hidup lainnya dalam air.

Melihat ini semua, kita memuji Allah yang melakukan perbuatan besar-Nya yang tak terduga dan ajaib itu (Ayb. 9:8-10). Kenyataan ini tidak saja mengagumkan, tetapi juga menjadi pemahaman dasar yang memotivasi kita berinteraksi dengan semua ciptaan Allah di bumi, dengan tanggung jawab dan rasa syukur. Di sinilah, menata dan melestarikan alam menjadi sangat penting kita lakukan, terutama di lingkungan kita sehari-hari. Allah membuat alam berinteraksi secara dinamis, sinergis, dan harmonis, karenanya kita juga kiranya dapat hidup dalam kemandirian fungsi-fungsi yang saling menopang satu dalam kemandirian untuk kebahagiaan hidup Bersama.

GB.222 : 1,4

Doa : (Ya Bapa mohon, bombing kami untuk membangun kehidupan yang harmonis di antara sesama dan ciptaan-Mu yang lain)